Khodijah bintu Khuwailid

 

bunga2Siapakah yang menyangka saat itu, keharuman pribadinya kelak akan merebak di sepanjang sejarah Islam di setiap dada kaum muslimin? Siapakah yang menyangka, bahwa wanita yang mulia ini akan mendapatkan sebuah keutamaan besar yang telah ditetapkan Allah I baginya? Siapakah yang menyangka, wanita ini akan mendampingi manusia yang paling mulia dalam rentang awal perjalanan dakwahnya? Siapakah yang menyangka saat itu…?

Muslimin manakah yang tak pernah mendengar sebutan namanya? Khadijah bintu Khuwailid bin Asad bin ‘Abdil ‘Uzza bin Qushay Al-Qurasyiyah Al-Asadiyah  yang tercatat sebagai istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sekaligus wanita pertama yang membenarkan pengangkatan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai nabi dan beriman kepada Allah I dan Rasul-Nya.Sebelumnya dia dikenal sebagai seorang wanita yang menjaga kehormatan dirinya sehingga melekatlah sebutan ath-thaahirah pada dirinya. Dia seorang janda dari suaminya yang terdahulu, Abu Halah bin Zararah  bin An-Nabbasy bin ‘Adi At-Tamimi, kemudian menikah dengan ‘Atiq bin ‘A`idz bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Makhzum. Saat dia kembali menjanda, seluruh pemuka Quraisy mengangankan agar dapat menyuntingnya.
Sebagaimana umumnya Quraisy yang hidup sebagai pedagang, Khadijah Radiyallahu ‘anha adalah wanita pedagang yang mulia dan banyak harta. Tiada yang mengira, ternyata pekerjaannya itu akan mengantarkan pertemuannya dengan manusia paling mulia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ia memberikan tawaran kepada seorang pemuda bernama Muhammad  untuk membawa hartanya ke Syam, disertai budaknya yang bernama Maisarah. Perdagangan yang dibawa oleh Muhammad  itu memberikan keuntungan yang berlipat. Tak hanya itu, Maisarah pun membawa buah tutur yang mengesankan tentang diri Muhammad.

Penuturan Maisarah membekas dalam hati Khadijah. Dia pun terkesan pada kejujuran, amanah, dan kebaikan akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tersimpan keinginan yang kuat dalam dirinya untuk memperoleh kebaikan itu, hingga diutuslah seseorang untuk menjumpai beliau dan menyampaikan hasratnya. Dia tawarkan dirinya untuk dipersunting Muhammad, seorang pemuda yang saat itu berusia dua puluh lima tahun. Gayung pun bersambut.

Namun, ayah Khadijah enggan untuk menikahkannya. Khadijah, wanita yang cerdas itu tak tinggal diam. Ia tak ingin terluput dari kebaikan yang telah bergayut dalam angannya. Dibuatnya makanan dan minuman, diundangnya ayah beserta teman-temannya dari kalangan Quraisy. Mereka pun makan dan minum hingga mabuk. Saat itulah Khadijah mengemukakan kepada ayahnya, “Sesungguhnya Muhammad bin ‘Abdillah telah mengkhitbahku, maka nikah-kanlah aku dengannya.” Dinikahkanlah Khadijah dengan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan segera Khadijah memakaikan wewangian dan perhiasan pada diri ayahnya, sebagaimana kebiasaan mereka pada saat itu.

Tatkala sadar dari mabuknya, ayah Khadi-jah mendapati dirinya mengenakan wewangian dan perhiasan. Ia bertanya keheranan, “Mengapa aku? Apa ini?” Khadijah berkata kepada ayahnya, “Engkau telah menikahkanku dengan Muham-mad bin ‘Abdillah.” Ayahnya pun berang, “Apa-kah aku akan menikahkanmu dengan anak yatim Abu Thalib? Tidak, demi umurku!” Khadijah menja-wab, “Apakah engkau tidak malu, engkau ingin menampakkan kebodohanmu di hadapan orang-orang Quraisy dengan menyatakan kepada mereka bahwa engkau saat itu menikahkanku dalam keadaan mabuk?” Tak henti-henti Khadi-jah berucap demikian hingga ayahnya ridha.

Wanita mulia itu, Khadijah, mendapati kembali belahan jiwanya dalam usia empat puluh tahun. Tergurat peristiwa ini dalam sejarah lima belas tahun sebelum Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diangkat sebagai nabi.

Allah Ta’aala telah menentukan Khadijah Radhiyallahu anha mendampingi seorang nabi. Awal mula wahyu turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berupa mimpi yang baik yang datang dengan jelas seperti munculnya cahaya subuh. Kemudian Allah Ta’aala jadikan beliau  gemar menyendiri di Gua Hira’, ber-tahannuts (beribadah) beberapa malam di sana. Lalu biasanya beliau kembali sejenak kepada keluarganya untuk menyiapkan bekal. Demikian terus berlangsung, hingga datang al-haq, dibawa oleh seorang malaikat.

Peristiwa ini sangat mengguncang hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bergegas beliau kembali menemui Khadijah  dalam keadaan takut dan berkata, “Selimuti aku, selimuti aku!” Diselimutilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga beliau merasa tenang dan hilang rasa takutnya. Kemudian mulailah beliau mengisahkan apa yang terjadi pada dirinya. Beliau mengatakan kepada Khadijah, “Aku khawatir terjadi sesuatu pada diriku.”

Mengalirlah tutur kata penuh kebaikan dari lisan Khadijah, membiaskan ketenangan dalam dada suaminya, “Tidak, demi Allah. Allah tidak akan merendahkanmu selama-lamanya. Sesungguhnya engkau adalah seorang yang suka menyambung kekerabatan, menanggung beban orang yang kesusahan, memberi harta pada orang yang tidak memiliki, menjamu tamu, dan membantu orang yang membela kebenaran.”
Lalu Khadijah membawa suaminya menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin ‘Abdil ‘Uzza, anak paman Khadijah, seorang yang beragama Nashrani pada masa itu dan telah menulis Al-Kitab dalam bahasa Ibrani. Dia adalah seorang laki-laki yang lanjut usia dan telah buta. Khadijah  berkata padanya, “Wahai anak pamanku, dengarkanlah penuturan anak saudaramu ini.” Waraqah pun bertanya, “Wahai anak saudaraku, apa yang engkau lihat?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menuturkan pada Waraqah apa yang beliau lihat. Setelah itu, Waraqah mengatakan, “Itu adalah Namus (yakni Malaikat Jibril u) yang Allah turunkan kepada Musa. Aduhai kiranya aku masih muda pada saat itu! Aduhai kiranya aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu!” Mendengar itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Apakah mereka akan mengusirku?” Waraqah menjawab, “Ya. Tidak ada seorang pun yang membawa seperti yang engkau bawa kecuali pasti dimusuhi. Kalau aku menemui masa itu, sungguh-sungguh aku akan menolongmu.” Namun tak lama kemudian, Waraqah meninggal.

Inilah kiprah pertama Khadijah bintu Khuwailid  semenjak masa nubuwwah. Dia pulalah orang pertama yang shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan ‘Ali bin Abi Thalib. Terus mengalir dukungan dan pertolongan Khadijah  kepada Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam dalam menghadapi kaumnya. Setiap kali beliau  mendengar sesuatu yang tidak beliau sukai dari kaumnya, beliau menjumpai Khadijah.  Lalu Khadijah pun menguatkan hati beliau, meringankan beban yang beliau rasakan dari manusia.
Tak hanya itu kebaikan Khadijah. Dia berikan apa yang dimiliki kepada suami yang dicintainya. Bahkan ketika Rasulullah menampakkan rasa senangnya pada Zaid bin Haritsah, budak yang berada di bawah kepemilikannya, Khadijah pun menghibahkan budak itu kepada suaminya. Inilah yang mengantarkan Zaid memperoleh kemuliaan menjadi salah satu orang yang terdahulu beriman.

Dialah Khadijah bintu Khuwailid. Kemuliaan itu telah diraihnya semenjak ia masih ada di muka bumi. Tatkala Jibril  datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengatakan, “Wahai Rasulullah, ini dia Khadijah. Dia akan datang membawa bejana berisi makanan atau minuman. Bila ia datang padamu, sampaikanlah salam padanya dari Rabbnya dan dariku, dan sampaikan pula kabar gembira tentang rumah di dalam jannah (surga) dari mutiara yang berlubang, yang tak ada kebisingan di dalamnya, dan tidak pula keletihan.”
Tiba pungkasnya masa Khadijah  mendampingi suaminya yang mulia. Khadijah  kembali kepada Rabbnya, tak lama berselang setelah meninggalnya Abu Thalib, paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tahun itu menjadi tahun berduka bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kaum musyrikin pun semakin berani mengganggu beliau sampai akhirnya Allah  perintahkan beliau untuk meninggalkan Makkah menuju negeri hijrah, Madinah, tiga tahun setelah itu.

Khadijah bintu Khuwailid. Kemuliaannya, kebaikannya dan kesetiaannya senantiasa dikenang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga merebaklah kecemburuan ‘Aisyah, “Bukankah dia itu hanya seorang wanita tua yang Allah telah mengganti bagimu dengan yang lebih baik darinya?” Perkataan itu membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam marah, “Tidak, demi Allah. Tidaklah Allah mengganti dengan seseorang yang lebih baik darinya. Dia beriman ketika manusia mengkufuriku, dia membenarkan aku ketika manusia mendustakanku, dia memberikan hartanya padaku saat manusia menahan hartanya dariku, dan Allah memberikan aku anak darinya yang tidak diberikan dari selainnya.”

Khadijah bintu Khuwailid. Kemuliaan itu telah dijanjikan melalui lisan mulia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wanita ahli jannah yang paling utama adalah Khadijah bintu Khuwailid, Fathimah bintu Muhammad r, Maryam bintu ‘Imran, dan Asiyah bintu Muzahim istri Fir’aun.” Semoga Allah meridhainya. Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

 

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman Anisah)

Sumber: Majalah “Syariah” Edisi 1

Categories: Salafiyah | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: